JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sepak bola bagi masyarakat Madura bukan sekadar hiburan akhir pekan atau perebutan kemenangan di lapangan hijau. Lebih dari itu, sepak bola telah menjelma menjadi simbol harga diri, persatuan, dan kebanggaan masyarakat Madura di tingkat nasional. Di balik perjalanan itu, ada sosok yang memiliki kontribusi besar dalam menjaga semangat tersebut, yakni Achsanul Qosasi.
Publik Madura tentu masih mengingat masa ketika Persepam Madura United tampil di kasta tertinggi sepak bola nasional yang kala itu bernama Indonesia Super League (ISL). Pada periode tersebut, sepak bola berhasil menjadi perekat masyarakat Madura dari berbagai latar belakang. Kehadiran Achsanul Qosasi dinilai mampu membangun semangat kebersamaan di tengah besarnya antusiasme masyarakat terhadap klub kebanggaan daerah.
Namun perjalanan sepak bola Madura tidak selalu berjalan mulus. Ketika Persepam harus terdegradasi, semangat masyarakat Madura nyaris kehilangan sandaran. Di titik itulah Achsanul kembali menunjukkan komitmennya terhadap sepak bola Madura dengan mengakuisisi Pelita Bandung Raya dan melahirkan Madura United.
Langkah tersebut bukan hanya sekadar membangun klub profesional baru. Lebih dari itu, kehadiran Madura United menjadi simbol bahwa Madura tetap memiliki identitas dan kebanggaan di kompetisi sepak bola tertinggi Indonesia. Sejak saat itu, Madura United tidak hanya dikenal sebagai klub sepak bola, tetapi juga representasi semangat dan karakter masyarakat Madura.
Melalui sepak bola pula, Achsanul berupaya memperkenalkan wajah Madura secara lebih positif kepada publik nasional. Ia ingin membuktikan bahwa Madura bukan seperti stigma negatif yang selama ini kerap dilekatkan oleh sebagian pihak. Sebaliknya, Madura dikenal memiliki solidaritas tinggi, semangat persaudaraan yang kuat, serta menjunjung sportivitas.
Dalam berbagai kesempatan, Achsanul juga kerap mengingatkan para suporter agar tetap menjaga identitas Madura dengan baik dan menerima siapa pun tanpa sekat perbedaan. Pesan tersebut menjadi penting di tengah rivalitas sepak bola yang kerap memanas. Baginya, sepak bola harus menjadi ruang persaudaraan, bukan sumber perpecahan.
Karena itu, kontribusi Achsanul terhadap Madura melalui sepak bola patut diapresiasi. Apa yang dibangunnya bukan sekadar klub, melainkan rasa bangga masyarakat terhadap daerahnya sendiri.
Momen ketika Madura United berjuang bertahan di kompetisi Liga 1 pun menjadi gambaran nyata betapa besar arti sepak bola bagi Madura. Bahkan Presiden Madura United tampak meneteskan air mata saat tim berhasil meraih kemenangan penting. Momen emosional itu menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal skor akhir, melainkan tentang menjaga martabat dan kehormatan Madura di panggung nasional. (REDJAVA****)












