JAVANETWORK CO.ID.SUMENEP – Alarm kenaikan harga mulai berbunyi di ujung timur Pulau Madura. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tertinggi di Jawa Timur pada Februari 2026.
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan inflasi tahunan (year on year/yoy) Sumenep menembus 6,37% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,44.
Angka ini jauh di atas inflasi Jawa Timur yang berada di level 4,88% dan nasional 4,76%.
Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo, SST, mengungkapkan tekanan harga terbesar justru datang dari kelompok yang tak selalu berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok harian.
“Komoditas emas perhiasan dan tarif listrik non-subsidi menjadi dua penyumbang terbesar inflasi tahunan di Sumenep,” jelasnya, Selasa (3/3/2026).
Secara rinci, emas perhiasan menyumbang andil 2,53%, disusul tarif listrik 1,76%, dan beras 0,33%.
Sementara secara kelompok, Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya memberi kontribusi 2,62%, Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga 1,91%, serta Makanan, Minuman dan Tembakau 1,53%.
Tak hanya secara tahunan, tekanan harga juga terasa dalam jangka pendek. Inflasi bulanan (month to month/mtm) Februari 2026 tercatat 1,08%, naik 0,34% dibanding Januari.
Bahkan, tren ini lebih tinggi dibanding periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.
Pemicunya mulai bergeser ke komoditas pangan. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,25%, diikuti daging ayam ras 0,12%, dan sigaret kretek mesin 0,06%.
Menurut Handoyo, kenaikan harga cabai rawit diduga akibat serangan hama serta lonjakan permintaan menjelang Ramadan yang tak diimbangi ketersediaan pasokan.
“Indikasinya karena hama dan peningkatan permintaan menjelang Ramadan. Pasokan tidak sebanding dengan kebutuhan,” pungkasnya.
Meski angka inflasi terlihat tinggi, BPS menilai dampaknya terhadap daya beli masyarakat perlu dilihat secara proporsional.
Karena emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, efeknya tidak langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbeda halnya jika lonjakan tertinggi terjadi pada beras atau bahan pokok utama lainnya.
Namun demikian, dengan posisi inflasi yang melampaui rata-rata provinsi dan nasional, perhatian publik kini tertuju pada langkah pengendalian harga menjelang Ramadan momentum di mana konsumsi rumah tangga biasanya meningkat signifikan.
Hingga berita ini diturunkan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sumenep belum memberikan pernyataan resmi terkait strategi stabilisasi harga yang akan ditempuh. (REDJAVA****)












