JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Warga Dusun Gelugur Timur, Desa Kalowang, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, hingga awal 2026 masih harus bertaruh nyawa setiap kali melintasi akses jalan dan jembatan utama desa mereka.
Kondisinya jauh dari kata layak dan dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Pantauan di lapangan menunjukkan, jalan desa yang menjadi jalur utama aktivitas warga hanya berupa tanah merah. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur licin dengan parit-parit dalam bekas roda kendaraan.
Pengendara sepeda motor kerap tergelincir, sementara kendaraan roda empat hampir tak bisa melintas.
Masalah paling serius terdapat pada jembatan kayu sederhana yang menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah dusun.
Jembatan itu tersusun dari papan dan batang kayu yang sebagian besar telah lapuk. Di bagian tengah, terdapat lubang besar yang langsung memperlihatkan aliran sungai di bawahnya.
Tanpa pagar pengaman dan minim penerangan, jembatan tersebut dinilai sangat berisiko, terutama saat malam hari dan musim hujan.
“Kalau hujan atau malam hari, kami sangat takut lewat sini. Salah pijak sedikit bisa jatuh ke bawah,” kata seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (03/12/2025).
Anak Sekolah hingga Petani Terdampak
Buruknya infrastruktur ini berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi warga. Anak-anak sekolah harus menempuh jalan berlumpur setiap hari, sering kali tiba di sekolah dengan pakaian kotor.

Di sisi lain, hasil pertanian sulit diangkut keluar desa. Kendaraan pengangkut enggan masuk karena kondisi jalan, sehingga biaya transportasi menjadi lebih mahal dan menekan pendapatan petani.
“Kami merasa kurang diperhatikan. Ini satu-satunya akses kami ke pusat desa dan pasar. Kalau jembatan ini sampai roboh, kami benar-benar terisolasi,” ujar warga lainnya.
Warga Galang Donasi Secara Swadaya
Minimnya penanganan membuat warga bergerak secara mandiri. Melalui komunitas lokal, mereka menginisiasi gerakan “Peduli Perbaikan Jalan dan Jembatan”, dengan membuka penggalangan donasi dari masyarakat luas.
Donasi dihimpun secara terbuka melalui rekening resmi BMT NU Jawa Timur, dan disebarkan melalui pesan berantai serta poster digital.
Warga berharap bantuan ini bisa digunakan untuk perbaikan darurat sambil menunggu perhatian pemerintah.
Harapan ke Pemkab Sumenep
Meski telah berinisiatif secara swadaya, warga tetap berharap ada langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Sumenep dan Pemerintah Desa Kalowang.
Mereka meminta pembangunan infrastruktur dasar ini menjadi prioritas pada tahun anggaran 2026.
Warga berharap jembatan kayu dapat diganti dengan konstruksi beton, serta jalan desa diperkeras dengan aspal atau paving block.
“Yang kami minta sederhana, akses yang aman. Supaya anak-anak bisa sekolah dengan layak dan ekonomi warga bisa berjalan,” tambah salah satu warga. (REDJAVA****)











