JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP.ESAI – Berita yang tersebar di sejumlah media daring menyebut bahwa 80,4 persen warga Sumenep tidak puas terhadap kinerja 100 hari pertama Bupati Achmad Fauzi dan Wakilnya, Kiai Imam Hasyim. Angka ini sontak menyedot perhatian, bahkan sempat trending bak berita selebritas buang hajat di hotel (setelah buang hajat bersama orang lain, tentunya).
Angka 80,4 persen itu dikutip dari survei yang dimuat di media daring rilpolitik.com. Media ini, sejak kemunculannya, kerap tampil sebagai oposisi dadakan yang rajin mengutip pihak tertentu (Anda tahu siapa, bukan?). Anehnya, temuan itu langsung dikunyah publik bak kebenaran mutlak yang tak bisa digugat. Padahal, jika kita bersedia sedikit saja mencermati lebih dalam, angka tersebut justru menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Masalah pertama dan paling mendasar adalah soal kredibilitas lembaga survei. Tidak ada nama lembaga resmi, tidak ada afiliasi akademik, tidak ada penanggung jawab, tidak ada rekam jejak, bahkan jumlah responden pun tidak disebutkan. Ini setara dengan kita menerima hasil diagnosis kanker dari seseorang yang mengaku dokter, padahal bahkan izin praktik pun tak punya. Mengerikan? Iya. Tapi tak layak dipercaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah berikutnya menyangkut metodologi. Survei yang serius, apalagi dengan klaim sebesar itu, semestinya menyajikan transparansi metodologis: siapa respondennya, bagaimana cara memilihnya, teknik pengambilan data, durasi survei, margin of error, dan tingkat kepercayaan. Sayangnya, semua itu nihil. Tanpa penjelasan ini, angka yang disodorkan tak ubahnya ramalan bintang mingguan: penuh klaim, minim bukti.

Lebih mengganggu lagi adalah cara framing media. Tak ada kutipan suara warga, tak ada ulasan tentang indikator kinerja, bahkan tidak ada upaya menjelaskan konteks. Hanya ada satu angka 80,4 persen yang diulang-ulang layaknya mantra. Di sinilah publik patut curiga: apakah ini survei ilmiah, atau sekadar bungkus dari agenda politik tertentu?
Dalam iklim demokrasi yang sehat, kritik terhadap penguasa adalah niscaya. Tapi kritik tanpa data yang sahih, tanpa argumen yang jernih, dan tanpa niat intelektual yang tulus, justru melemahkan demokrasi itu sendiri. Kita tidak sedang membela pemerintah secara membabi buta. Namun, bila survei dimaksud tak bisa mempertanggungjawabkan data, maka itu bukan kritik melainkan fitnah berbungkus statistik.
Perlu dicatat, pemerintahan Fauzi–Imam baru berjalan tiga bulan. Dalam fase awal seperti ini, penilaian publik umumnya masih berkutat antara harapan dan ekspektasi. Sumenep yang kepulauannya luas, dengan demografi majemuk, tidak bisa direduksi ke dalam satu angka yang melompat-lompat tanpa jejak asal-usulnya.
Jika memang ada pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan lewat survei, setidaknya berusahalah sedikit cerdas. Tampilkan data mentahnya, buka metodologinya, dan sebutkan siapa penyandang dan pelaksana surveinya. Tanpa itu, angka 80,4 persen hanyalah angka gembung yang pantas dibuang ke tong sampah opini, bukan dipajang di podium kebenaran. (REDJAVA****)
Penulis : Bambang Supratman SH Ketua IBM Sumenep, Kamis 25 Juni 2025
Editor : REDJAVA









