JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah sunyinya respons pejabat terhadap jeritan petani, muncul suara lantang dari Rama Ramadhan, aktivis yang dikenal sebagai pejuang kesejahteraan petani dari Desa Lebeng Barat.
Melalui sebuah pernyataan tegas yang viral di media sosial dan grup komunitas tani, Rama menggugah kesadaran publik dan menyorot tajam perlakuan tidak adil terhadap petani yang kerap menjadi korban permainan politik musiman.
“Ketika petani bersuara, pejabat tutup telinga. Tapi saat pemilu tiba, suara petani dicari,” kutip Rama dalam pernyataan pamfletnya, Sabtu (17/05/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan mengenakan jaket merah menyala, wajahnya yang tenang namun penuh determinasi terpampang di bawah logo Gapoktan Sumber Prima.
Ia menyampaikan pesan serius: “Stop!!! Jadikan petani alat politik. Waktunya petani bersuara dan menuntut haknya.”
Pernyataan tersebut menjadi refleksi getir dari kondisi para petani yang selama ini hanya dianggap sebagai “ladang suara”, bukan sebagai pilar ketahanan pangan bangsa.
Rama menegaskan bahwa petani bukan sekadar komoditas pemilu, melainkan elemen vital yang seharusnya mendapatkan perlindungan, akses kesejahteraan, dan ruang untuk menyampaikan aspirasinya secara bermartabat.
Gapoktan Sumber Prima Desa Lebeng Barat, tempat Rama beraktivitas, kini menjadi titik awal gelombang kesadaran baru. Banyak petani mulai menyuarakan kegelisahannya di berbagai forum lokal.
Mereka menuntut transparansi bantuan pertanian, kemudahan akses pupuk, serta keadilan dalam penyaluran program-program ketahanan pangan.
Apa yang disuarakan Rama bukan sekadar keluh kesah lokal, tetapi cermin kegagalan kebijakan struktural dalam mengakomodasi kebutuhan dasar petani.
Banyak kalangan menilai, jika suara seperti ini terus diabaikan, maka krisis kepercayaan terhadap elite politik akan semakin dalam, terutama di basis-basis agraris seperti Madura.
Rama Ramadhan mengakhiri seruannya dengan satu pesan moral yang menyentuh: “Petani tidak butuh janji politik. Mereka butuh didengar, dihargai, dan diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat.” (REDJAVA****)










