JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah dinamika dunia kerja yang semakin kompetitif, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tidak tinggal diam. Lembaga ini tampil sebagai garda terdepan dalam mengurai benang kusut pengangguran, sekaligus menyalakan lilin harapan bagi para pencari kerja lokal.
Sejak awal 2024 hingga Maret 2025, sebanyak 539 warga Sumenep telah mengajukan AK1, atau yang lebih dikenal sebagai “kartu kuning” – dokumen vital yang menjadi tiket awal menuju bursa kerja. Dari jumlah itu, 490 permohonan tercatat sepanjang tahun 2024, dan 49 sisanya diajukan dalam tiga bulan pertama 2025.
Namun bagi Disnaker, angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah representasi wajah-wajah muda yang mendambakan peluang, suara-suara sunyi dari desa hingga kota yang merindukan kesempatan untuk mandiri dan berdaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“AK1 ini hanya gerbang awal. Tugas kami tidak berhenti pada mencetak kartu, tetapi membuka jalan nyata menuju dunia kerja yang sesungguhnya,” ujar Eko Kurniawan, Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnaker Sumenep, Kamis (17/4/2025).
Langkah konkret pun digencarkan. Disnaker kini aktif membangun jejaring kemitraan strategis, mulai dari perusahaan lokal hingga skala nasional. Tak hanya itu, mereka juga menggandeng Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah-sekolah kejuruan, memastikan bahwa siswa dan lulusan baru tidak berlayar tanpa kompas dalam menghadapi ombak persaingan kerja.
“Kami mendorong perusahaan untuk melaporkan info lowongan ke Disnaker. Bukan untuk mengawasi, tapi agar informasi cepat tersampaikan ke masyarakat, termasuk lewat kanal digital yang terus kami kembangkan,” imbuh Eko.
Di balik upaya tersebut, ada perhatian serius terhadap validitas data. Setiap pemohon AK1 kini wajib melalui proses verifikasi menyeluruh agar profil mereka benar-benar akurat dan relevan.
“Dengan data yang rapi dan tertata, kami bisa menyampaikan kebutuhan tenaga kerja ke tingkat provinsi dan nasional dengan lebih tepat sasaran. Ini penting untuk memperkuat perencanaan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran terbuka,” tegasnya.
Yang lebih menggembirakan, tren terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar pemohon AK1 berasal dari usia produktif dan kini lebih memilih bekerja di sektor industri lokal. Ini menjadi sinyal positif: masyarakat mulai meninggalkan bayang-bayang urbanisasi semu dan memilih untuk membangun masa depan di tanah kelahiran.
“Tak berhenti di situ, Disnaker juga terlibat aktif dalam penyusunan program sertifikasi kerja di sekolah menengah kejuruan (SMK), baik negeri maupun swasta. Kolaborasi ini membuka ruang baru agar para lulusan tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi benar-benar siap tempur di dunia kerja,” pungkasnya.
Di balik angka 539 itu, ada harapan yang menyala. Ada tekad pemerintah daerah untuk tak membiarkan potensi muda hanya menjadi angka di data statistik. Ada kesadaran bahwa pembangunan sejati dimulai dari mereka yang bekerja, berkarya, dan percaya bahwa masa depan bisa dimenangkan dari kampung halaman. (REDJAVA****)








