JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di ujung utara Madura, angin laut kembali membawa kabar bahagia. Pantai Slopeng, permata alam di Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, menjelma menjadi panggung akbar kebudayaan saat perayaan Lebaran Ketupat tahun ini.
Tidak sekadar tempat piknik, Slopeng kini bicara lebih lantang: tentang identitas, kebersamaan, dan semangat baru pariwisata berbasis budaya.
Tahun ini, tak tanggung-tanggung, sebuah event perdana bertajuk Festival Ketupat digelar di bibir pantai yang luasnya seperti tak berujung.
Ketupat yang biasanya hanya hadir sebagai hidangan khas Idulfitri, kini naik pangkat menjadi ikon budaya dalam kemasan kompetisi, kreativitas, dan kebersamaan.
“Kami ingin menjadikan Slopeng lebih dari sekadar tujuan wisata. Ini tentang kebanggaan budaya, tentang bagaimana masyarakat Madura menyambut tamu dengan cara yang tak terlupakan,” ujar Hendri Yudi Iswanto, Ketua Pokdarwis Pantura Community saat dikonfirmasi media,(7/4/2025).
Hendri tak sekadar bermimpi. Bersama komunitas lokal dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sumenep, ia menargetkan lebih dari 10 ribu wisatawan hadir dalam pesta rakyat ini.
Angka yang bukan hanya optimistis, tapi juga mencerminkan magnet kuat Slopeng sebagai ruang ekspresi budaya yang hidup.
Dalam Festival Ketupat, ratusan ketupat tampil tidak biasa. Ada yang dihias menyerupai burung merak, ada pula yang dibungkus dengan anyaman khas desa-desa pesisir.
Kreativitas warga menjadi tontonan sekaligus pelajaran: bahwa budaya bisa berkembang tanpa kehilangan akar.
Tak hanya itu, berbagai pertunjukan seni, bazar UMKM, hingga permainan tradisional turut menghidupkan suasana.

Slopeng menjelma seperti halaman besar dari buku sejarah yang terbuka, mengajak setiap pengunjung membaca kembali siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Di tengah gemuruh debur ombak dan langkah kaki ribuan pengunjung, Slopeng hari ini bukan hanya sebuah pantai.
Ia adalah ruang sakral yang merayakan hidup, menyatukan generasi, dan membakar semangat baru Sumenep untuk tampil di panggung nasional sebagai daerah yang kaya, bukan hanya akan alam, tapi juga jiwa budayanya.
“Kami ingin para wisatawan pulang membawa cerita. Bukan hanya tentang pasir putih atau foto-foto indah, tapi tentang rasa: rasa kagum, haru, dan rindu untuk kembali,” tandas Hendri. (REDJAVA****)













