JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dalam setiap pergantian bulan hijriah, umat Islam sering dihadapkan pada perbedaan metode penentuan. Namun, Muhammadiyah tetap kukuh dengan prinsipnya.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumenep, Dr. Moh. Zeinudin, S.H., S.H.I., M.Hum., menegaskan bahwa metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah adalah cara paling akurat, ilmiah, dan tidak bergantung pada faktor cuaca.
“Metode hisab ini telah lama menjadi pegangan Muhammadiyah karena berbasis ilmu falak modern yang memberikan kepastian. Dengan Hisab Hakiki Wujudul Hilal, kita tidak perlu menunggu pengamatan visual yang sering kali terganggu mendung atau keterbatasan alat. Kalender Islam bisa ditetapkan jauh hari sebelumnya,” ujar Dr. Zein kepada media ini, Minggu, (23/02/2025).
Ia menjelaskan, dalam metode ini, awal bulan hijriah ditetapkan berdasarkan posisi hilal yang sudah wujud di atas ufuk, meskipun belum kasat mata. Inilah yang membedakannya dengan metode rukyat yang masih mengandalkan visibilitas langsung.
“Dengan hisab, kita memiliki sistem penanggalan yang lebih tertata dan tidak bergantung pada faktor eksternal. Kepastian ini sangat penting untuk ibadah umat,” tambahnya.
Meski perbedaan metode antara Muhammadiyah dan pemerintah masih sering terjadi, Dr. Zein mengajak masyarakat untuk tidak menjadikannya sebagai polemik berkepanjangan. Baginya, perbedaan ini adalah bagian dari dinamika intelektual Islam yang seharusnya dipahami dengan sikap dewasa.
“Tidak perlu ada yang diributkan. Setiap metode memiliki dalil dan argumentasi ilmiah yang kuat. Yang terpenting, kita semua tetap satu dalam ukhuwah Islamiyah,” tegasnya.
Sejalan dengan prinsip tersebut, Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1446 Hijriah berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal. Berdasarkan maklumat yang dirilis, 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu Pahing, 1 Maret 2025. Artinya, warga Muhammadiyah akan memulai ibadah puasa lebih awal dibandingkan kemungkinan ketetapan pemerintah yang masih menunggu hasil rukyat.
Tak berhenti di situ, Muhammadiyah juga menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin Pahing, 31 Maret 2025. Perbedaan waktu perayaan Idul Fitri pun kemungkinan kembali terjadi, sebagaimana yang telah menjadi fenomena tahunan di Indonesia.
Dalam maklumat yang sama, Muhammadiyah juga menetapkan awal Dzulhijjah 1446 H pada Rabu Kliwon, 28 Mei 2025. Dengan demikian, Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Kamis Pon, 5 Juni 2025, dan Idul Adha 10 Dzulhijjah dirayakan pada Jumat Wage, 6 Juni 2025.
Keputusan ini diumumkan secara resmi oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam konferensi pers pada 12 Februari 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, maklumat ini diprediksi akan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, terutama di media sosial, di mana perbedaan metode penentuan kalender Islam selalu menarik perhatian.
Namun, di balik perbedaan ini, ada satu hal yang pasti: Muhammadiyah tetap teguh pada keyakinannya, menghadirkan kepastian bagi umat, dan menawarkan metode yang berbasis pada ilmu pengetahuan modern.
“Yang terpenting adalah kita saling menghormati, karena esensi dari semua ini adalah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah,” pungkasnya. (REDJAVA****)












