JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumenep menggelar seminar parenting skill di Aula Satpol PP Sumenep, Rabu (12/2/2025). Acara ini menghadirkan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sumenep, Dr. Zamzami Sabiq, M.Psi., sebagai narasumber utama, yang memberikan wawasan mendalam mengenai pola asuh anak dan cara efektif mengatasi tantrum.
Dalam paparannya, Dr. Zamzami menjelaskan bahwa tantrum adalah bentuk ledakan emosi yang umumnya terjadi pada anak usia dini akibat kesulitan mengungkapkan keinginan, kelelahan, atau faktor lingkungan yang terlalu menstimulasi. Menurutnya, tantrum bukan sekadar perilaku negatif yang harus segera dihentikan, tetapi merupakan bagian dari perkembangan emosional anak yang perlu dipahami oleh orang tua.
“Ketika anak tantrum, mereka sebenarnya sedang berjuang dengan emosinya. Ini bukan sekadar perilaku rewel, melainkan bentuk komunikasi karena mereka belum mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Tugas kita sebagai orang tua bukan menghentikannya dengan paksa, tetapi membimbing mereka melewati fase ini dengan pendekatan yang penuh empati dan kasih sayang,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga jenis tantrum yang umum terjadi, yaitu:
1. Tantrum Manipulatif terjadi ketika anak mencoba mendapatkan sesuatu dengan cara menangis atau berteriak.
2. Tantrum Frustrasi muncul akibat ketidakmampuan anak dalam melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
3. Tantrum Emosional dipicu oleh perasaan yang mendalam seperti ketakutan, kecemasan, atau kelelahan.
Dr. Zamzami juga menguraikan empat tahapan tantrum, mulai dari tahap pemicu hingga pemulihan, serta pentingnya memahami kapan anak membutuhkan intervensi dan kapan mereka hanya butuh ruang untuk menenangkan diri.
Menurutnya, salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah merespons tantrum dengan hukuman atau kemarahan. Hal ini justru dapat memperburuk keadaan dan membuat anak semakin sulit mengendalikan emosinya. Sebaliknya, orang tua dianjurkan untuk menerapkan pendekatan yang lebih lembut dan edukatif.
Sebagai solusi, Dr. Zamzami memberikan lima langkah efektif dalam menghadapi tantrum anak, yakni:
1. Tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Jika orang tua ikut marah, anak akan semakin sulit belajar mengelola emosinya.
2. Memvalidasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan “Ibu tahu kamu sedang kesal karena mainanmu rusak, itu memang menyebalkan, ya.” Dengan cara ini, anak merasa dipahami.
3. Memberikan ruang untuk menenangkan diri, bukan dengan mengabaikan, tetapi tetap berada di dekat anak sambil memberikan rasa aman.
4. Menggunakan komunikasi yang jelas dan sederhana. Anak-anak lebih mudah memahami instruksi singkat dibanding penjelasan panjang lebar.
5. Mengalihkan perhatian jika memungkinkan, misalnya dengan menawarkan aktivitas lain yang menarik setelah anak mulai tenang.
Ketua DWP Satpol PP Sumenep, Ny. Asri Wahyu Kurniawan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar ini.
“Kami ingin para ibu, khususnya anggota DWP Satpol PP Sumenep, memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pengasuhan anak. Dengan parenting skill yang kuat, kita dapat menciptakan generasi yang lebih sehat secara emosional dan mental. Harapannya, seminar ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi orang tua dalam mendidik anak dengan lebih bijaksana,” ujarnya.
Seminar ini diikuti oleh anggota DWP Satpol PP Sumenep yang antusias menyimak materi dan berbagi pengalaman seputar tantangan dalam mendidik anak. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para peserta semakin siap menghadapi dinamika pengasuhan anak dengan lebih bijaksana dan penuh kasih sayang. (REDJAVA****)









