JAVANETWORK.CO ID.BALI – Kepala Desa Kesiman Kertalangu Kecamatan Denpasar Timur Kota Madya Denpasar, Provinsi Bali menerima kunjungan Studi Tour Pemerintah Desa Pragaan Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur.
Kepala Desa Kesiman Kertalangu Bali I Made Suena, ST menjelaskan tentang desanya yang memiliki luas wilayah 405 hektar, jumlah penduduk sebanyak 28.799 jiwa.
Namun dari jumlah penduduk Desa Kesiman Kertalangu ada warga yang tidak permanen kurang lebih 4.000 jiwa. Desa Kesiman juga memiliki 11 Dusun, namun tidak mempunyai RT, hanya ada dusun atau Banjar pemelihara adat di tingkat dusun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu Desa Kesiman Kertalangu Bali termasuk daerah strategis. Struktur organisasi perangkat desa sebagaimana desa yang ada di Nusantara, ada Kades, Sekdes, Kaur dan Kasi yang sudah memiliki staf pembantu kinerjanya dengan penghasilan tetap dan tunjangan sekitar 6 juta sampai 8 juta.
“Desa Kesiman Kertalangu termasuk salah satu desa Mandiri berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) dengan nilai 0.9422, dengan mendapat pagu DD lebih tinggi ketimbang desa lain. Bahkan semua desa di Denpasar Bali tergolong desa Mandiri,” kata I Made Suena, ST di hadapan rombongan study Tour Pemdes Pragaan.
Karena pendapatan yang luar biasa, maka di Desa Kesiman masyarakatnya mau berdesa ditengah kota.
“Pada umumnya desa mau jadi kelurahan, namun disini kelurahan mau jadi desa,” ujarnya.
I Made Suena juga menerangkan potensi Desa Kesiman Kertalangu merupakan kawasan pertanian, pantai Biaung, Muara Tangtu, dan Sumber Mata Air.
“Kawasan pertanian tetap kita jaga kelestariannya. Ada sungai terpanjang di Bali namanya sungai Ayub. Nah, muara sungai itu ada di wilayah desa kami yang kita beri nama Muara Tangtu. Saat ini masih menjadi obyek wisata secara gratis bagi masyarakat,” terangnya.
Selain itu desa Kesiman juga mempunyai sumber mata air yang diambil untuk mata air minum warga. Saat ini sumber mata air tersebut juga digunakan untuk air kemasan yang bernilai ekonomis.
Selain itu juga ada inovasi tata kelola pemerintahan, dimana Desa Kesiman punya sistem informasi bernama Sikekal (Sistem Informasi Kesiman Kertalangu). tujuannya untuk memudahkan warga dalam pelayanan administrasi surat menyurat kependudukan.
“Ini aplikasi masih di tingkat desa belum terintegrasi ke kecamatan. Mekanisme pelayanan melalui Kadus dulu baru ke pelayanan umum, diimput, tak sampai 5 menit sudah pelayanan selesai,” tuturnya menjelaskan alur pelayanan prima.
Untuk kontrol internal Desa Kesiman menyediakan aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kinerja) yang memiliki fungsi untuk mengukur kinerja perangkat desa dan staf melalui pelaporan kegiatan setiap harinya.
“Laporan kegiatan staf setiap harinya kami pantau melalu aplikasi ini,” imbuhnya.
Tata kelola sistem pemerintahan desa lainnya, Kesiman memiliki MAI Made (Majalah Informasi Masyarakat Desa). Ini program inovasi desa guna memberikan informasi kepada masyarakat terkait pelaksanaan kegiatan desa dalam satu tahun anggaran.
“Setiap dusun mendapatkan 4 majalah, antara lain diberikan kepada ketua dusun, kepala adat, tokoh adat, kelompok pemuda,” jelasnya.
Untuk pengelolaan BUMDes menggunakan aplikasi berbasis android “Bumdesku” yang dirancang sebagai digital marketing produk yang dijual BUMDes, dimana warga bisa berbelanja secara online dengan sistem pembayaran online, ada juga sistem bon untuk kalangan sendiri.
Produk yang dijual antara lain Jung Kumis, Endek Sekar Kepung, Ayam Betutu, Virgin Coconut Oil, Masker and Coco Kepir.
Potensi bidang kewilayahan desa Kesiman, ada kawasan desa budaya Kertalangu yaitu kawasan yang dipelihara, dilengkapi Gong Perdamaian Dunia, Gong Resto, Warung D’Tukad, Kolam Pancing, Taman Pancasila, dan Area Jogging.
Juga terdapat wisata edukasi Subak Teba Majalangu. Bahkan bersama lembaga pendidikan Kesiman melakukan penyusunan kurikulum edukasi subak, dimana anak anak belajar mengenal pertanian kami, agar anak anak sekolah tahu bahwa apa yang mereka makan diwariskan dari pertanian nenek moyangnya yang dikelola dengan era kekinian, selain belajar di kelas anak anak juga belajar di kawasan terbuka dari PAUD sampai SLTP, dan menggunakan kurikulum khusus belajar diluar kelas.
Konsep edukasi yang kita bangun diawali dengan perencanaan dengan pelaku pendidikan dan arsitek profesional.
Untuk menggali inspirasi historis, desa Kesiman memunculkan icon sejarah yaitu patung semut.
“Dulu ada raja yang angkuh dikalahkan oleh semut. Makanya Kami bikin patung semut di 11 dusun. Icon itu diharapkan bisa membangkitkan kegotong royongan membangun desa. Konsep semut ini jadi inspirasi desa.” pungkasnya. (REDJAVA****).








