JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah tantangan era modern, batik tulis Madura terus menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. Namun, menjaga tradisi agar tetap relevan membutuhkan inovasi. Hal inilah yang mendorong Universitas Wiraraja mengambil langkah nyata dengan menghadirkan teknologi Smart Drying untuk pengrajin batik di Desa Pakandangan Tengah, Kecamatan Bluto, Sumenep.
Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) 2025, yang digelar melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat atas dukungan Ditjen Dikti – Kemdiktisaintek RI dengan nomor kontrak 035/LL7/DT.05.00/PM/2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh DPPM dengan mengusung tema “Integrasi Smart Drying dan Business Intelligence untuk Efisiensi Manajemen dan Kepatuhan Hukum Lingkungan pada Pengrajin Batik” ini melibatkan tim dosen Universitas Wiraraja yang diketuai Evi Dwi Hastri, S.H., M.H., CPM, dengan anggota Moh. Baqir Ainun, S.E., M.A., serta Hopid, S.P., M.P.
Mitra sasaran adalah Kelompok Pengrajin Batik Bunga Seroja, yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya di desa tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Ketua Tim Pelaksana, Evi Dwi Hastri, teknologi Smart Drying mampu menghadirkan efisiensi waktu dan biaya produksi, sekaligus lebih ramah lingkungan.
“Dengan integrasi teknologi, para pengrajin tidak hanya terbantu dalam kualitas produksi, tetapi juga bisa lebih kompetitif di pasar global. Yang terpenting, usaha mereka tetap sejalan dengan kepatuhan terhadap hukum lingkungan,” ujarnya kepada media ini, Jum’at (29/08/2025)
Tak hanya itu, sistem Business Intelligence yang turut diperkenalkan juga memberi warna baru dalam tata kelola usaha. Para pengrajin dibimbing untuk mampu mengelola manajemen produksi dan pemasaran dengan data yang lebih akurat.
“Ini bukan hanya soal melestarikan batik, tapi juga bagaimana batik Madura bisa naik kelas dan menjadi ikon ekonomi kreatif yang modern serta berwawasan lingkungan,” sambungnya.
Melalui program ini, Universitas Wiraraja ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tak harus berbenturan dengan modernisasi. Justru, teknologi dapat menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan. Dengan Smart Drying, proses pengeringan kain batik yang biasanya bergantung pada cuaca kini bisa lebih cepat, higienis, dan hemat energi, sekaligus mengurangi jejak karbon yang ditimbulkan.
Inovasi ini pun disambut antusias oleh para pengrajin. Mereka menilai langkah Universitas Wiraraja bukan sekadar bantuan teknis, tetapi juga sebuah motivasi bahwa batik Madura punya peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.
“Harapan kami, pengrajin batik bisa terus berkreasi tanpa khawatir tertinggal oleh zaman. Batik Madura akan tetap lestari, lebih ramah lingkungan, dan mampu bersaing secara global,” tutupnya. (REDJAVA****)









