JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ada yang lebih kuat dari rindu kampung halaman: keengganan untuk segera meninggalkannya.
Itulah yang kini tengah terjadi di kepulauan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pasca-Lebaran 2025. Ribuan pemudik belum juga kembali ke daratan.
Bukan karena tak ada kapal, tapi karena hati mereka masih tertambat pada hangatnya keluarga dan tradisi kuno yang tak bisa ditinggal begitu saja: Lebaran Ketupat.
Data resmi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kalianget mencatat, dari 10.979 orang yang menyeberang ke kepulauan menjelang Hari Raya Idulfitri, baru 1.852 orang yang melakukan perjalanan balik hingga H+3 lebaran.
Artinya, sekitar 83 persen pemudik masih memilih tinggal lebih lama di pulau-pulau tempat mereka lahir dan dibesarkan.
“Fenomena ini rutin terjadi, tapi tahun ini terasa lebih masif. Mayoritas pemudik masih larut dalam tradisi Lebaran Ketupat, yang menjadi simbol syukur dan momentum puncak silaturahmi,” ungkap Kepala KSOP Kalianget, Azwar Anas, Sabtu (5/4/2025).
KSOP merinci, arus mudik dari Kalianget menuju Masalembu tercatat sebanyak 902 orang, namun yang sudah kembali baru 376 orang. Ke arah Kangean, dari 5.438 pemudik, baru 638 yang balik ke daratan.
Ini menunjukkan betapa besarnya daya tarik tradisi yang berakar kuat di budaya masyarakat kepulauan Sumenep.
Tradisi Lebaran Ketupat, yang digelar satu pekan setelah Idulfitri, bukan sekadar ritual makan ketupat.
Ia adalah perayaan emosional: merangkul kerabat jauh, mengobati rindu orang tua, menyatukan kembali keluarga yang tersebar di berbagai kota dan pulau. Banyak pemudik yang sengaja menunda kepulangan demi menikmati suasana penuh kehangatan ini.
Melihat pola itu, KSOP Kalianget memprediksi puncak arus balik akan terjadi pada H+8 Idulfitri.
Untuk itu, antisipasi telah disiapkan: mulai dari optimalisasi kapal penumpang, pengawasan keselamatan pelayaran, hingga kesiagaan petugas di pelabuhan.
“Kami ingin memastikan bahwa meskipun arus balik nanti padat, semua berjalan aman dan lancar. Kami juga mengimbau para pemudik untuk menyesuaikan jadwal keberangkatan agar tidak menumpuk di hari yang sama,” ujarnya.
KSOP mengingatkan bahwa cuaca dan kondisi laut juga menjadi faktor krusial.
“Oleh karena itu, komunikasi dengan syahbandar dan operator kapal terus ditingkatkan guna menjamin keselamatan seluruh penumpang,” pungkas Azwar Anas.
Sementara itu, suasana di pelabuhan masih relatif lengang. Hanya beberapa kapal berlayar dengan kapasitas penumpang jauh di bawah angka mudik.
Namun, pelabuhan siap menghadapi ledakan penumpang dalam beberapa hari ke depan.
Di balik angka dan prediksi itu, satu hal menjadi jelas: bagi warga kepulauan Sumenep, pulang kampung bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan perjalanan hati yang tak mudah ditinggalkan. (REDJAVA****)












