JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik hamparan tanah subur di ujung timur Pulau Madura, sebuah potensi besar tengah menanti untuk bersinar. Kabupaten Sumenep, yang selama ini dikenal sebagai daerah kaya budaya dan pesona wisata, ternyata menyimpan harta karun di sektor agribisnis.
Srikaya, buah tropis dengan rasa manis dan aroma khas, kini mulai mencuri perhatian sebagai komoditas unggulan yang berpotensi menembus pasar nasional.
Dengan produksi mencapai 400 ton per tahun, srikaya Sumenep bukan sekadar hasil bumi biasa. Empat kecamatan Saronggi, Bluto, Batuputih, dan Talango menjadi pusat utama budidaya buah ini.
Dari sana, lahir varietas unggulan bernama Srikaya Langsar, yang memiliki keistimewaan berupa ukuran besar, tekstur halus, serta rasa yang lebih manis dibandingkan varietas lainnya.
Sayangnya, di balik keunggulan tersebut, srikaya Sumenep menghadapi tantangan besar: masa simpan yang singkat, membuatnya rentan terhadap kerusakan jika tidak segera dipasarkan atau diolah lebih lanjut.
Musim panen yang terjadi pada Februari hingga Maret menjadi momen emas bagi para petani. Di masa ini, buah srikaya membanjiri pasar lokal dan mulai merambah ke kota-kota besar seperti Surabaya.
Bahkan, beberapa pengusaha telah melirik peluang ekspor, mengingat tingginya permintaan dari luar daerah.
Data analisis Location Quotient (LQ) dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa nilai LQ srikaya Sumenep selalu di atas angka 1, yang menandakan keunggulannya dalam produksi dibandingkan dengan daerah lain.
Artinya, buah ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga berpeluang besar menguasai pasar di luar wilayah Sumenep.
Namun, potensi besar ini belum diiringi dengan strategi pascapanen yang optimal. Tanpa inovasi, ancaman kerugian akibat buah yang cepat busuk akan terus menghantui para petani.
Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama para pelaku agribisnis perlu merancang solusi konkret, mulai dari teknologi penyimpanan, pengolahan menjadi produk turunan seperti selai dan minuman berbasis srikaya, hingga strategi pemasaran berbasis digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Kini, tantangannya jelas: apakah Sumenep siap membawa Srikaya Langsar menjadi ikon agribisnis nasional? Dengan langkah yang tepat, bukan tidak mungkin buah ini akan menjadi primadona baru dalam industri hortikultura Indonesia.
Srikaya Sumenep bukan sekadar buah biasa, ia adalah emas hijau yang menunggu untuk digarap dengan lebih serius. Jika semua elemen bersatu, bukan hal mustahil jika dalam waktu dekat, srikaya Sumenep menjadi topik utama dalam tren pertanian Indonesia. (REDJAVA****)












