JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Sebuah terobosan besar lahir dari Kabupaten Sumenep. Naghfir’s Institute resmi melakukan koordinasi strategis pengembangan bittern garam, limbah produksi garam laut yang selama ini terabaikan, untuk ditransformasi menjadi produk kesehatan bernilai ekonomi tinggi.
Kegiatan ini digelar di Kantor Naghfir’s Institute, Jalan Lingkar Barat, Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Sumenep, Sabtu (03/12/2025). Fokus utama koordinasi adalah pengembangan tiga jenis bittern yang mengandung mineral esensial dan berpotensi besar untuk kebutuhan kesehatan dan industri farmasi.
Direktur Naghfir’s Institute, Dr. Naghfir, S.H.I., S.H., M.Kn, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan lompatan peradaban industri garam nasional.
“Bittern selama ini dianggap limbah dan dibuang. Padahal, di dalamnya terdapat kekayaan mineral bernilai tinggi. Inilah yang sedang kami ubah: dari limbah menjadi solusi kesehatan dan sumber ekonomi baru,” kata Dr. Naghfir kepada media ini, Sabtu (03/01/2026).
Pihaknya menambahkan, pengembangan bittern merupakan jawaban atas tantangan klasik sektor garam Indonesia yang selama ini hanya berhenti pada produksi bahan mentah.
“Kami ingin memutus mata rantai ketergantungan pada produk impor. Bittern garam lokal bisa menjadi produk kesehatan unggulan nasional, bahkan global, jika dikelola dengan riset dan tata kelola yang benar,” ujarnya menambahkan.
Koordinasi ini juga menegaskan komitmen Naghfir’s Institute dalam mendorong hilirisasi industri garam berbasis riset, ekonomi berkelanjutan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan agenda nasional penguatan industri berbasis potensi lokal dan pengelolaan sumber daya alam secara berkeadilan. (REDJAVA****)












