JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumenep menggelar rapat koordinasi pada Jumat (14/11/2025), melibatkan tokoh lintas agama dari Katolik, Protestan, Buddha, Konghucu hingga Islam.
Pertemuan ini menjadi ruang konsolidasi penting untuk menilai perkembangan dinamika sosial dan menetapkan langkah strategis menjaga stabilitas daerah.

Selain membahas isu-isu sensitif dan arah kebijakan FKUB, rapat juga menyoroti penguatan kolaborasi antarlembaga keagamaan, termasuk keterlibatan organisasi baru yang siap bergabung dalam FKUB Sumenep.
Ketua FKUB Sumenep, KHR. Achmad Qusyairi, S.S., menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya sedang mematangkan program Early Warning System (EWS) sebagai instrumen deteksi dini potensi konflik sosial berbasis keagamaan.
“FKUB sebagai ormas mitra pemerintah harus selalu siap dan bersinergi dengan berbagai instansi terkait. Potensi konflik sosial bisa muncul kapan saja, sehingga kesiapsiagaan adalah harga mati,” kata Kyai Qusyairi, Minggu (16/11/2025).
Pihaknya juga mengingatkan bahwa Sumenep tetap memiliki potensi menjadi sasaran kelompok-kelompok ideologis tertentu jika tidak dijaga dengan kewaspadaan bersama.

“Sumenep yang adem dan kondusif harus terus dijaga. Jangan sampai ada kelompok tertentu yang mencoba menjadikannya basis pergerakan. Radikalisme yang tampak tiarap bukan berarti mati; ideologi itu masih hidup dan hanya menunggu momentum untuk kembali muncul,” tegasnya.
Kyai Qusyairi juga menyampaikan bahwa FKUB Sumenep menyambut baik niat ABI (Ahlul Bait Indonesia) untuk bergabung secara resmi ke dalam FKUB.
“Tentunya kehadiran ABI memperkuat posisi FKUB sebagai wadah inklusif bagi ormas-ormas moderat di Sumenep,” jelasnya.
Pengasuh Ponpes Hidayatul Ulum Utara Gadu Barat Kecamatan Ganding menyebut bahwa ABI telah menyampaikan keinginannya agar keberadaan mereka diakui secara formal di bawah naungan FKUB, sekaligus berharap dukungan agar organisasi tersebut dapat berperan aktif dalam menjaga kerukunan masyarakat.

Dirinya menegaskan bahwa FKUB terbuka bagi kelompok-kelompok moderat yang memegang prinsip inklusif dan toleran.
“Kami di FKUB bersama seluruh perwakilan lintas agama berkomitmen berjalan seiring untuk mencegah setiap potensi pemicu konflik, dan kehadiran ABI sebagai kelompok moderat tentu memperkuat upaya tersebut,” pungkasnya.
Dengan bergabungnya ABI, FKUB Sumenep diyakini semakin memiliki spektrum representasi keagamaan yang luas, memperkuat dialog lintas iman, serta memperkokoh struktur pencegahan konflik berbasis partisipasi masyarakat. (REDJAVA****)












