JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ketegangan internal di tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sumenep kian meruncing.
Musyawarah Daerah (Musda) yang semestinya menjadi ajang konsolidasi justru menjadi pemantik polemik antar-organisasi kepemudaan (OKP).
Ketua DPD KNPI Sumenep, Syaiful Harir, sebelumnya menyatakan bahwa Musda belum dapat digelar lantaran belum adanya calon ketua yang siap maju.
“Percuma kalau saya paksakan Musda tapi tidak ada calon yang bersedia. Itu akan menjadi kendala tersendiri,” ujar Syaiful, Senin (7/7/2025), dikutip dari Detikkota.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah keras oleh Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumenep, Asmuni.
Ia menyebut alasan itu tidak berdasar dan hanya menjadi tameng untuk menunda Musda demi mempertahankan posisi.
“Saya tidak yakin dengan pernyataan Ketua KNPI. Masak dari sekitar 20 OKP di Sumenep tidak satu pun punya kader yang siap maju? Itu hanya alibi agar Musda tidak digelar,” tegas Asmuni, Kamis (10/08/2025).
Menurutnya, Pemuda Muhammadiyah saja sudah siap mendelegasikan kader terbaik untuk maju dalam bursa Ketua KNPI. Ia pun menuding Syaiful sengaja mengulur waktu pelaksanaan Musda dengan dalih tidak adanya kandidat.
Asmuni juga menyoal legalitas perpanjangan masa jabatan Ketua KNPI yang disebutnya tidak sah. Menurutnya, keputusan tersebut bertentangan dengan forum tertinggi dalam struktur organisasi KNPI.
“Alasan perpanjangan itu tidak sah. RAPIMPUDA adalah keputusan tertinggi, tidak bisa dipatahkan hanya dengan rapat harian pengurus. Baca lagi AD/ART-nya!” ucapnya tajam.
Ia menekankan, tugas Ketua KNPI saat ini hanyalah satu: menggelar Musda, bukan menjaring calon atau menunda proses regenerasi kepemimpinan.
“Tugas Ketua KNPI sekarang adalah menjalankan keputusan RAPIMPUDA: segera membentuk panitia Musda, lalu panitia itu menyurati seluruh OKP untuk meminta rekomendasi calon ketua. Masak tidak paham organisasi, Ketua KNPI!?” tutup Asmuni, geram.
Pernyataan keras Asmuni ini menjadi sinyal kuat bahwa dinamika internal KNPI Sumenep bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pertarungan prinsip dan arah masa depan kepemudaan. (REDJAVA****)












