Dana BST di Desa Torjek, Diduga Dilakukan Pemotongan Oleh Aparat Desa Hingga Ratusan Ribu Rupiah

Dana Bansos Apa dan Untuk Siapa? (foto Javanetwork)

Javanetwork.co.id, Sumenep – Bantuan Sosial Tunai (BST) untuk masyarakat terdampak covid-19 di Desa Torjek, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep, dikabarkan telah dilakukan pemotongan hingga ratusan ribu rupiah oleh salah satu aparat Desa setempat.

Halilurrahman salah seorang tokoh pemuda desa setempat mengatakan bahwa pemotongan BST covid-19 di desanya itu dilakukan oleh oknum Kadus, RW, yang tak lain adalah aparat Desa setempat.

“Untuk di desa kami pencairannya dilakukan satu kali, jadi setiap penerima langsung mendapakan Rp1.800.000, dan dari uang itu salah satu oknum kadus yang tak lain aparat Desa kami yang melakukan pemotongan,” terangnya.

Lilur sapaan akrabnya mengungkapkan, pemotongan terhadap BST dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI untuk warga terdampak Covid-19 itu cukup berfariasi mulai Rp20.000 hingga Rp300.000.

“Pemotongannya cukup berfariasi mulai dari Rp20.000, Rp50.000, Rp100.000, Rp200.000 hingga paling yang besar Rp300.000,” ungkapnya.

Menurutnya, Ada beberapa alasan yang dilontarkan kepada para penerima yang dilakukan pemotongan salah satunya adalah untuk pembuatan berkas.

“Alasan cukup banyak, seperti untuk uang pengantian berkas, uang bensin bahkan karena pengambilanya tidak lakukan sendiri atau diwakilkan,” tetangnya

Lebih lanjut lilur mejelaskan, saat ini data yang sudah dikantongi ada sebanyak 17 orang penerima BST yang telah memberikan pengakuan pembuktian.

“17 orang ini sesuai pengakuan mereka kepada kami, dan sudah membuat pernyataan secara tertulis kalau dana itu dipotong. Yang terjadi di lima dusun,” jelas Halilurrahman, Minggu (28/6/2020) kemarin, seraya menyatakan jumlah itu masih sementara karena masih ada dua dusun lagi yang ditelusuri.

Ia membeberkan, dari 17 orang yang memberikan pengakuan itu diantaranya warga Dusun Pondok Kelor sebanyak 10 orang dipotong 100 ribu-an, Dusun Paregi ada 2 orang dipotong juga 100 ribu-an, dengan alasan untuk penggantian berkas-berkas. Terus di Dusun Kaji Sara ada 1 orang dipotong 300 ribu, alasannya karena diwakilkan dan uang berkas-berkas.

Selanjutnya, kata lilur di Dusun Aeng Butun dan Dusun Aeng Lombi, juga ditemukan pemotongan, antara Rp50.000, Rp100.000 hingga Rp200.000.

Kemudian di Dusun Aeng Butun sama juga diwakilkan karena penerima tidak bisa, setelah diwakilkan ternyata dipotong juga oleh Kadusnya sebesar 200 ribu, jadi mereka menerima 1 juta 600 ribu.

“Terus di Dusun Aeng Lombi juga sama, ini untuk pembayaran berkas-berkas dan uang bensin, ada yang dipotong 50 ada yang dipotong 100 seperti itu,” tambahnya.

Halilurrahman mengaku terkait pemotongan dana BST yang dikhususkan untuk mengurangi beban masyarakat di tengah dampak pandemi itu, telah melakukan upaya klarifikasi kepada Kepala Desa Torjek.

Hanya saja, kata dia, pihak kepala desa terkesan menghindar untuk menemui karena beralasan tidak mau menerima tamu.

Bahkan ia mengaku, terkait adanya pemotongan dana BST oleh oknom Perangkat Desa Torjek, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep telah mengadukan dan melaporkan kepada Polsek setempat.

“Saya juga sudah melaporkan ke pihak Polsek setempat, dengan sejumlah bukti yang dikantongi,” ujarnya, seraya menegaskan akan terus mengawal.

Sementara, saat wartawan media ini mencoba untuk melakukan klarifikasi kebenaran terkait hal tersebut kepada Kepala Desa Torjek melalui sambungan telepon sellulernya. Nomor telfon kades tersebut tidak aktif meski sudah dicoba benerapa kali.(Dn/Nuri)

Bagikan di sini!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*