Kapolres Lumajang: Unik, Budaya Yang Dimiliki Oleh Masyarakat Tengger

Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH, SIK, MM, MH

Javanetwork.co.id, Lumajang – Suku Tengger mendiami 4 Kabupaten yaitu Lumajang, Probilinggo, Pasuruan dan Malang. mereka tinggal sekitar kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ) dengan ketinggian rata – rata 2200 Mdpl.

Masyarakat tengger umumnya hidup dari pertanian seperti kentang dan sayur mayur lainya. Cuaca yang sangat dingin dan seringnya turun hujan membuat tanaman disuku tengger tidak mengenal musim kapanpun bisa panen. Salah satu yang terkenal adalah kentang yaitu dari jenis granola dan kentang merah. Terkadang sering juga disebut kentang tengger karena memiliki tekstur dan rasa yang berbeda dengan kentang sawah.

Suku tengger memiliki adat yang unik dimana apabila menerima tamu mereka terima di dapur. Ruang dapur menjadi ruang tamu bagi masyarakat tengger Mereka biasa bercengkrama bersama keluarga didapur karena ada perapian untuk memanaskan badan mengingat cuaca yang sangat dingin di wilayah tengger.

Selain itu ada budaya tahunan yang dikenal dengan KARO dimana selama 14 hari masyarakat tengger tidak boleh keluar dari desanya, dari 14 hari itu 7 hari digunakan untuk mempersiapkan acara KARO dan 7 hari kegiatan adatnya. Dimana dalam 7 hari itu mereka harus datang kerumah – rumah warga tetangga sekitar semacam kegiatan silaturahmi orang Muslim pada saat lebaran.

Setiap orang yang mengunjungi rumah mereka wajib untuk mencicipi makanan yang sudah disiapkan 7 hari sebelumnya. Dalam sehari mereka bisa mendatangi sampai 100 rumah.

Menurut Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH SIK MM MH menuturkan, masyarakat tengger memiliki budaya yang unik dan tinggal dikawasan yang memiliki panorama alam yang sangat indah.

Rute perjalanan yang menuju desa Argosari memiliki keindahan tersendiri. Karena kita akan melihat jurang – jurang yang cukup dalam, pohon – pohon besar yang tertutup oleh kabut serta kebun – kebun warga yang memiliki kemiringan sekitar 70 derajat.

Di Desa Argosari sendiri cuaca dingin yang cukup ekstrem. bagi wisatawan, hal ini bisa menjadi experience tersendiri. selain itu Budaya masyarakat tengger tidak kalah uniknya, Seperti menerima tamu didapur, kumpulan orang – orang membuat api unggun setiap malam, budaya karo setiap tahun dan budaya adat unan – unan setiap 5 tahun.

Selain itu juga hasil pertanian holtikultura masyarakat tengger memiliki kualitas diatas rata – rata. Wisata yang menjadi gongnya adalah B 29 atau biasa disebut NEGERI DIATAS AWAN. Ini semua merupakan potensi pariwisata yang luar biasa karena gabungan dari keseluruhannya menjadikan ekosistem wisata yang saling melengkapi sehingga terasa sempurna.

Mudah – mudahan kelak argosari dan wilayah – wilayah lainnya di Lumajang bisa menjadi wisata unggulan di indonesia sehingga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Lumajang dengan penghasilan yang cukup. kriminalitas dengan sendirinya menurun bila pendapatan masyarakat cukup” Tandasnya.

Perlu diketahui bahwa desa argosari kec. Senduro terletak di ketinggian 2200 Mdpl yang didiami oleh suku tengger. Lumajang memiliki area yang paling luas didiami oleh suku tengger yaitu mencapai kurang lebih 55 persen. Total ada 5 desa di lumajang yang di diami oleh suku tengger yaitu desa Ranupani, desa Argosari, desa Bedayu Talang, desa Cempoko ayu, dan desa Kandang Tepus.

Legenda “Negeri di atas Awan” disebut Bukit 29 menyimpan sebuah cerita legenda. dimana menurut informasi masyarakat, puncak B29 dulunya merupakan tempat melakukan ritual masyarakat sekitar.

Ada kepercayaan masyarakat sekitar, dimana kalau kita memohonkan sesuatu di puncak B29 maka permohonan kita akan cepat terkabul. Bahkan permohonan cukup di ucapkan didalam hati.

Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH, SIK, MM, MH menyampaikan dahulu banyak masyarakat yang ke puncak B29 untuk memohon dimudahkan jodoh atau memohon agar tanaman kentangnya cepat tumbuh dan subur. Jadi dapat dikatakan Puncak B29 merupakan tempat suci, tempat memuja para leluhur leluhur dan juga tempat menyampaikan harapan melalui berdoa. (*Hms/Mbah/Hdih)

Bagikan di sini!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*