Disdik Sumenep Lounching Wajib Diniyah, Menanamkan Nilai Agama Menjadi Pribadi Yang Berkualitas

Bupati Sumenep Dr. K.H. A. Busyro Karim, M.Si di dampingi Kepala Dinas Pendidikan Sumenep Drs. Bambang Iriyanto, M.Si menyerahkan Bantuan Santunan Anak yatim dan Duafa

Javanetwork.co.id, Sumenep – Pemerintah Kabupaten Sumenep Dinas Pendidikan Sumenep, Lounching Pendidikan Wajib Diniyah,
Pesantren Ramadhan Indah dan Ceria dan Pendidikan Wajib Diniyah di Kabupaten, Sumenep, Madura, Jawa Timur, (20/5).

Acara puncak Hari Pendidikan Nasional di warnai dengan santunan anak yatim dan santunan kepada kaum duafa. kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Sumenep Dr. K.H. A. Busyro Karim, M.Si bersama Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Sumenep Ibu Nur Fitriana Busyro Karim, Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep Ir. Edy Rasiyadi, M.Si, Ketua DPRD Sumenep H. Herman Dalikusuma, Ketua PGRI Sumenep, seluruh Pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Sumenep, semua Kepala Sekolah, Guru dan Siswa.

Bupati Sumenep, Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si menyampaikan, dengan di berlakukanya wajib Diniyah untuk pendidikan jenjang Sekolah Dasar (SD) sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMA) sederajat mampu menanamkan nilai-nilai agama untuk menjadi pribadi yang berkualitas.

“Dengan pendidikan wajib Diniyah ini, diharapkan mampu membakali anak didik mengahadapi tantangan jaman saat ini,” ucap Bupati Busyro, Senin (20/5/2019).

Menurut Busyro, saat ini pendidikan wajib Diniyah di Kabupaten Sumenep masih terlaksana di sebelas Kecamatan. Sehingga dengan menerapkan wajib Diniyah, merupakan salah satu upaya untuk membekali anak didik dengan pemahaman tentang ilmu agama. Berbagai Program pendidikan yang terselenggarakan di Sumenep, mampu menciptakan anak didik sebagai generasi yang cerdas dan berakhlakul karimah.

“Di era digitalisasi ini, anak didik harus mampu mengusai pendidikan agama untuk membentengi diri sejalan dengan derasnya perubahan jaman,” terangnya.

Disamping itu, Bupati Busyro juga berpesan, bahwa dalam pendidikan wajib Diniyah tersebut harus berkesinambungan dan seimbang, baik dari sisi intelektualitas dan dapat menguasai perkembangan teknologi, sejatinya sebagai pendukung mentalitas anak.

“Dengan terciptanya pendidikan berbasis pesantren anak-anak memiliki kecerdasan cemerlang dan berakhlakul karimah,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Drs. Bambang Irianto, M.Si dalam sambutanya mengatakan, dalam pelaksanaan pendidikan pesantren dan Ramadhan Indah untuk jenjang PAUD, SD dan SMP di lingkungan dinas kabupaten Sumenep serentak akan dimulai pada 21 mei 2019 dengan tipe kegiatan pesantren Ramadhan disesuaikan dengan kondisi sekolah dan daerah dengan tetap mengacu pada juknis pelaksanaan pesantren Ramadhan dari Kementerian Agama tahun 2019.

Sedangakan untuk pembimbing Pada pelaksanaan pesantren Ramadhan adalah guru agama di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep dan, atau berkolaborasi dengan Kementerian Agama Kabupaten Sumenep.

“Pendidikan wajib diniyah tahun 2019 dilaksanakan di sebelas Kecamatan, yakni Kecamatan Kota, Gapura, Kalianget, Manding, Rubaru, Dasuk, Ambunten, Saronggi, Bluto, Lenteng, dan Ganding,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Drs. Bambang Irianto, M.Si, Senin (20/5/2019) sore.

Wajib Diniyah, Kadisdik Sumenep menuturkan, untuk Tingkat pelaksanaan wajib Diniyah sebagai berikut, Ula untuk SD dan Wustho untuk SMP di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Dan Ulya untuk SMA/SMK di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Sumenep.

“Ada beberapa pelaksanaan di masing-masing jenjang pendidikan dilingkungan Dinas Pendidikan Sumenep,” tutur mantan Kadis PU PRKP dan Cipta Karya ini.

Adapun peserta wajib Diniyah sebanyak 7.025 siswa SD dari 227 lembaga, dan sebanyak 1.074 siswa dari 10 SMPN, dan semua siswa untuk SMA/SMK. Dari 11 Kecamatan tersebut, wajib dilaksanakan diluar struktur kurikulum Nasional dengan tatap muka sebagai berikut, dilaksanakan minimal tiga kali dalam seminggu dan setiap tatap muka dilaksanakan setidaknya 2 jam pelajaran.

“Tatap muka tiga kali dalam seminggu minimal 2 jam pelajaran,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dalam tatap muka tersebut dibimbing oleh guru agama atau ustad yang berkompeten di bidangnya dengan model pelaksanaan sendiri. Model dapat dilaksanakan sendiri, dikerjasamakan atau kolaborasi dengan pihak pesantren yang ada di lingkungan sekolah.

“Namun, didalam pelaksanaanya tetap mengacu pada juknis wajib Diniyah yang disusun oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep,” tukasnya.(HADI/RPM)

Bagikan di sini!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*