Rugi Menukik 100 Juta, Pembudidaya Ikan Bandeng Gigit Jari

Lahan pembudidaya ikan Bandeng (foto : Ist Javanetwork)

Javanetwork.co.id, Sumenep – Penaburan bibit ikan bandeng dan udang sejak bulan desember 2018 lalu, kurang membuahkan hasil. Pasalnya hingga bulan ini para pembudi daya ikan tersebut yang berlokasi di Desa Pinggir Papas Kecamatan Kota Kabupaten Sumenep berkeluh kesah atas gagalnya panen.

Faktor cuaca yang kurang mendukung seperti kurangnya hujan yang menyebabkan air tambak menjadi panas yang tidak bersahabat dengan ikan. Dampaknya ikan akan tampak merah-merah pada kepalanya sehingga menjadi lambat bertumbuhnya dan kemungkinan besar ikan akan mati

Aktifis Pemuda Pinggir Papas (PPP) yang juga selaku pembudi daya ikan bandeng dan udang. Moh. Imam Syafi’i mengaku, budi daya ikan bandeng dan udang untuk tahun ini kebanyakan gagal panen. Banyak faktor yang menyebabkan gagal panen. Diantaranya kurangnya intensitas hujan sehingga menyebabkan air tambak menjadi panas, yang berdampak pada pertumbuhan ikan seperti penuwaan merah-merah pada kepalanya sehingga ikan akan lambat pertumbuhannya yang kemungkinan besar ikan-ikannya akan mati.

“Penaburan benihnya dari bulan desember 2018 lalu. Untuk harga bibit bandeng dan udang berkisar Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah) dalam 1.000 (seribu) ekornya, sementara luas lahan tambak tentu bervariasi ada yang 1 hektar ada juga yang setengah hektar,” bebernya.

Menurutnya untuk masa panen udang sekitar 1 bulan saja. Ya kalau cuaca mendukung akan panen, Kalau bandeng sekitar 3 bulan hingga 4 bulan baru bisa panen. Di hitung sejak dari awal garapan tambak, penaburan ikan, pemeliharaan ikan hingga gagalnya panen, dengan luas lahan tambak sekitaran 100 hektar kerugian yang di tanggung pembudi daya ikan ditaksir mencapai lebih kurang Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Kemudian, ini juga berdampak pada mahalnya ikan bandeng dan udang karena produksinya banyak yang gagal. Setahu saya selama ini tidak ada sama sekali bantuan bibit atau pembinaan dari pemerintah terkait.
“Mestinya pemerintah hadir di tengah-tengah permasalahan ini. Jangan berpangku tangan,” harapnya.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep melalui Kepala Bidang Budidaya Perikanan Sri Harjani menampik bahwa pihaknya tidak dapat laporan sama sekali dari masyarakat yang membudi daya ikan yang berlokasi di Desa Pinggir Papas.

“Umumnya di desa tersebut hanya pengolahan garam, jikalau ada pembudidaya ikan. Pihaknya memastikan itu hanya sebatas selingan saja. Kan sekarang musim hujan jadi tambak kebanyakan nganggur, dari pada nganggur kebanyakan masyarakat menabur bibit ikan,” ujarnya.

Itupun lanjut dia, pemeliharaannya di biarkan berkembang secara alami. Pakannya pun hanya lumut yang menempel di dinding tambak, misalkan hujan lebat kemungkinan besar ikan-ikannya bisa terseret arus air hujan yang meluap.(HB/RPM)

Bagikan di sini!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*