Fantastik, Produk Unggulan Narapidan, Mampu Merebut Pasar Kerajinan

Javanetwork.co.id, Jakarta – Direktorat Jendral  Pemasyarakatan  menggelar program pembinaan kemandirian Narapidana untuk unjuk gigi kepada masyarakat, acara digelar  di Indonesia convion Exhibition Bumi Serpong Damai (BSD), Tanggerang Banten, Rabu (24/10).

Acara ini dihadiri oleh Sri Puguh Budi Utami (kepala Lapas),Harun Sulianto (Direktur Pembinaan Narapidana dan latihan kerja)

Dikatakan,” Sri Puguh Budi Utami” tujuan acara ini antara lain untuk menghadirkan dan mensosialisasikan  Hasil kerajinan sebagai sarana strategis  sekaligus mempromosikan Produk Unggulan Narapidana di Trade Expo Indonesia 2018 Tangerang

Sebagai wujud konsistensi dan komitmen Pemasyarakatan mensosialisasikan program Produk Unggulan Narapidana  dan berharap ada investor yang menanam modalnya.

“Saya berharap dengan ikut sertanya Ditjen PAS dalam acara ini akan bisa mempublikasikan program pembinaan kemandirian Narapidana kepada masyarakat baik di dalam maupun luar negeri,” harapnya.

“Ini kali kedua kita ikut serta di Trade Expo Indonesia. Promosi dan sosialisasi dari kita tentunya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. ”ungkap Utami.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi, Harun Sulianto, mengatakan produk-produk unggulan Narapidana yang ditampilkan dalam Trade Expo Indonesia 2018 seperti kursi rotan sintetis dari Lapas Narkotika Cirebon, ayunan rotan sintetis dari Lapas Kelas I Cirebon, furniture dari Lapas Porong, batik dari Lapas Semarang, Lapas Narkotika Nusakambangan dan Lapas Cipinang, tas batik dari LPP Semarang, hiasan tiga dimensi dari LPP Jakarta, penebah dari LPP Malang, kopi Jeera dan kerajinan kulit dari Rutan Cipinang, tikar kayu dari Lapas Pontianak, kerajinan cukli dari Bapas Nusa Tenggara Barat, tas anyaman dari LPP Mataram.

Ada pula kerajinan kayu dari Lapas Banyuwangi, agenda tapis dan kerudung tapis dari LPP Lampung, kalung batik dari LPP Yogyakarta, sarung soft ball dari Lapas Ambarawa, kaligrafi dari Lapas Madiun, lukisan getah nyatu dari Rutan Palangkaraya, kaos residivis dari eks Narapidana Lapas Banceuy, batik dari Rutan Sumenep, meja akar dari Lapas Kembang Kuning Nusakambanga, serta Bola Kaki dari Lapas Kelas I Cirebon.

“Lapas Industri harus dibangkitkan kembali mengingat persaingan regional yang diharapkan dengan Lapas sebagai sentra industri dapat menyokong produktivitas masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya khususnya Narapidana. Hal tersebut dapat menggerakan sekaligus memperkuat ekonomi bangsa dengan adanya kegiatan di Lapas dan Rutan produktif di Indonesia,” katanya.

Kegiatan tersebut merupakan partisipasi aktif Pemasyarakatan dalam membangun perekonomian bangsa melalui hasil karya Narapidana menuju Lapas produktif yang memproduksi hasil karya Narapidana yang dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional yang telah terbukti dengan adanya produksi dari lapas yang sudah di impor ke luar Negeri.(RPM/red)

Bagikan di sini!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*