Sejarah Sumur Dhadtan dan Bujuk Bulangan

Lokasi Sumur Dhadtan di Lenteng Timur, Lenteng, Sumenep. (Foto: Rahman/JavaNetwork)

Sumenep, JavaNetwork.co.id Sumenep adalah nama suatu daerah Kadipaten dibawah naungan kepemimpinan kerajaan Majapahit (Raja Brawijaya), Sumenep berasal dari kata Songenep. Pemerintah pusat Kerajaan Majapahit mau mendirikan pintu gerbang benteng kerajaan yang sulit dikerjakan karena pendirian pintu gerbang benteng kerajaan tersebut dibutuhkan tenaga yang ahli. pada saat itu diadakanlah sayembara siapa saja yang bisa mendirikan pintu gerbang akan diberi hadiah Putri Raja Majapahit (Raja Brawijaya), maka Kerajaan Sumenep mengutus Pangeran Jokotole untuk mengikuti sayembara pembangunan pintu gerbang benteng Kerajaan Majapahit tersebut.

“Jokotole adalah Putra dari Potre Koneng/Dewi Saini dengan Pangeran Adi Poday, Potre Koneng itu sendiri Putri Raja Songenep (Pangeran Seccadiningrat II), sedangkan Adi Poday ( Cahaya/ api yang sempurna) cucu dari Mbah Syekh Subakir (Sayyid Syamsuddin Al baqir Al farsi,”Penguasa pulau sepudi. Adi Poday berasal dari Pulau Sepudi (Sepudi = Sepuh Dewe karena pulau pertama yang masuk islam di tatanan kepulauan Madura).

Sebelum berangkat ke Kerajaan Majapahit, Pangeran Jokotole dipertemukan dengan Pangeran Adi Rasa ( Adik dari Pangeran Adi Poday) oleh ayah angkatnya (Empu Kelleng), untuk meminta saran serta memperdalam ilmu Islam yang sebelumnya diterima dari sang ayah. Pangeran Adi Rasa memberitahukan bahwa Pangeran Jokotole mempunyai seorang adik yang bernama Pangeran Agus Wedi yang berguru kepada Kyai Pademawu di Pamekasan. Pangeran Adi Rasa menyarankan kepada Pangeran Jokotole untuk berangkat bersama sama ke Kerajaan Majapahit, disinilah Pangeran Jokotole baru mengenal Pangeran Agus Wedi adik kandungnya.

Pada saat membangun pintu gerbang benteng kerajaan majapahit Pangeran Jokotole dibantu oleh adiknya Agus Wedi. Pekerjaan tersebut dapat terselesaikan sesuai harapan sang Pangeran Brawijaya.

“Selanjutnya Pangeran Brawijaya memberikan gelar kepada Pangeran Jokotole dengan sebutan Pangeran Jaka Kudapanele dan hadiah salah satu Putrinya yang bernama Dewi Ratnadi kepada Pangeran Jokotole.

Sumur dhadtan di Lenteng Timur, Lenteng, Sumenep. (Foto: Rahman/JavaNetwork)

Pada saat itu kondisi kesehatan Dewi Ratnadi sangat memprihatinkan karena beliau dipenuhi dengan penyakit yang sulit disembuhkan. Putri Dewi Ratnadi menderita penyakit Yaitu : Sulit untuk melihat ( Rabun ), sulit untuk berjalan (Lumpuh), dan penyakit kulit yang bernanah, akan tetapi Pangeran Jokotole sangat sayang dan hormat kepada beliau.

Di sepanjang perjalanan ke sumenep Pangeran Jokotole selalu bermunajat kepada Allah SWT (pada saat itu Pangeran Jokotole sudah masuk islam yang diajarkan oleh sang ayahnya Adi Poday dan pamanya Adi Rasa) di perjalanan banyak kejadian yang menakjubkan diantaranya,”Somber Socah (sumber air di kabupaten Bangkalan) sebuah sumber air yang karomahnya diberikan oleh Allah SWT untuk menyembuhkan mata putri Dewi Ratnadi, “Omben (Kemben/samper/sarung) Sungai didaerah kabupaten sampang adalah sungai tempat membersihkan darah kotor luka – luka ditubuh Dewi Ratnadi, kemben yang dipakai hanyut dibawa air dan Dewi Ratnadi berusaha mengambilnya sendiri dengan tergesa gesa (tempat Dewi Ratnadi bisa berjalan sendiri),”aeng banger (air Bau busuk) Air Sumber yang terletak di Perbatasan kabupaten Pamekasan dan kabupaten Sumenep yaitu tempat mengeringnya luka luka ditubuh Dewi Ratnadi.

Setelah sampai di rumah ayah angkatnya Empu Kelleng (Pembuat Senjata yang bertubuh hitam) yang berada di desa Pakandangan, beliau menyarankan untuk pergi ke suatu daerah terpencil dimana Pangeran Jokotole dulu bertapa yaitu Gua Payudan dan bertemu dengan Kakek Lenteng yang dulu pernah memberinya sebuah senjata pusaka tali seperti lidi berwarna hitam (lente battheng/celleng = Lenteng ), dengan kakek lenteng rombongan Pangeran Jokotole dan juga yang dari majapahit diajak ke Lembung (Lembung = lemba bungkos/tersembunyi), disinilah Pangeran Jokotole membuat Sumur pertama bernama Sumur Rato dan mendalami Agama Islam, tetapi Dewi Ratnadi merasa malu karena telah dibuatkan taman sare oleh para santri dan pasukannya.

Akhirnya Pangeran Jokotole disuruh oleh ayah angkatnya untuk mencari tempat yang strategis untuk mendirikan pemukiman yang sangat cocok untuk sebuah kadipaten (karena kerajaan songenep pertama ada di Batuputih) bersama kakek lenteng (mempunyai keahlian menatata kota), diperjalanan Dewi Ratnadi memohon untuk tidak ikut dalam rombongan karena takut menyusahkan Pangeran Jokotole. Maka Pangeran Jokotole memotong bambu untuk membuat tandu Dewi Ratnadi tapi tetap tidak mau, akhirnya Kakek Lenteng menyuruh Pangeran Jokotole membuat Sumur kedua yang bernama Sumur Dhadtan (Padha Sultan) dan Putri Kakek Lenteng yang bernama Nyi Rong Sheng di suruh menjaga dan mendampingi Dewi Ratnadi dan disinilah Arca dibangun untuk peribadatan pasukan pengamanan Sang Dewi (majapahit), Pangeran Jokotole menemukan beberapa lokasi Kadipaten yang cocok dan di tandai oleh kakek lenteng.

Pangeran Jokotole meninggal di Batang – Batang (Mate/Mayat) , tandu yang mengusung beliau patah di sa asa (sa ngasae/Parcoma/Tiada guna) disinilah Pangeran Jokotole dikebumikan. Sang Dewi Ratnadi yang dirawat oleh Nyi Rong Sheng (Penjaga Sumur dhadtan dan peñata Labang Mesem serta Taman Kraton) sembuh total dan masuk islam beserta pasukannya.

Disinilah Dewi Ratnadi dan pasukannya mengabdikan segala ilmu yang dipelajarinya di Nalanda (Perguruan Tinggi terbesar di Majapahit yang mengajarkan Kitab : Sutasoma = Kitab hukum Sosial , Negarakertagama = Kitab hukum tata Negara dan politik, Sansekerta = kitab tata bahasa ) dan dibantu oleh utusan Kyai Pekeng, utusan Kyai Radang dari lembung bersama Kakek Lenteng mengabdikan diri kepada rakyat . Disinilah Islam, ilmu kesatria dan ilmu tata negara berkembang. Beliau meninggal dan disemayamkan bersama pasukannya dengan nama Asta Bulangan. (Red)

Bagikan di sini!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*